Prosa Dia: 69. Sebuah Mimpi

Tuhan,
Aku tahu
Aku rasakan
Air mata mengalir turun kala mata masih terpejam
kala subuh masih belum menyingsing
kala ayam jago masih pulas dengan mimpinya

Tuhan,
Masih jelas ku ingat mimpi semalam
Tidak kabur dan buram
atau
Engkau sengaja memperjelasnya?
Apa maksudnya Ya Rabbi?
Aku tidak begitu paham arti
Aku masih perlu meraba sebelum berdiri
di dunia ini

Tuhan,
Begitu dahsyatnya mimpi yang Kau berikan
Hingga ku ta sanggup tuk tegar
Aku merasakan dengan kulitku
kala air mata merembes keluar dari kelopaknya
Sebuah mimpi,
teramat pedih dari semua mimpi buruk
yang pernah ku alami

Tuhan,
Ku berharap
mimpi itu bukanlah sebuah pertanda
Ku berharap
mimpi itu bukanlah sebuah peringatan buruk
Ku berharap
mimpi itu tak lebih dari sebuah penglihatan
atau sebuah mimpi, hanya sebuah mimpi...

Tuhan,
Lindungi diriku, adik-adikku, kedua orang tuaku
bahkan seluruh keluargaku
Lindungilah kami dari segala keburukan..

Sebuah mimpi ini
telah membangunkan jiwaku,
jiwa murni yang selama ini tertidur
dalam gelapnya mimpi dan obsesiku

Sebuah mimpi ini,
Ya Allah, lindungi aku, kami...

Prosa Dia 31: Apa yang Lebih Buruk dari Kematian?

Semua akan berakhir. Semua memiliki akhir. Ketika akhir datang, tak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Dia adalah kabut dalam kegelapan, dia adalah bayang-bayang diantara derap kaki-kaki dan setiap detak jantung manusia. Dia adalah sekat diantara hembus nafas.

Raga ini adalah suatu boneka untuk jiwa kita. Sebuah tempat bernaung selama di dunia. Ketika akhir tiba, jiwa akan pergi. Meninggalkan raganya dan dunianya. Siapkah kita padanya?

Aku telah melihat akhir menjemput. Mereka laksana angin sore semilir namun dingin ke ubun-ubun. Raga akan memucat seperti langit sore setelah hujan. Tak ada ucapan-ucapan renyah melainkan air mata duka yang akan menetes dari setiap raga yang lain. Kemudian raga akan diantar ke persemayamannya, menunggu tuk dipanggil kembali hingga raga ini kan hancur digerus tanah dan tahun.
Tidak ada yang lebih buruk dari kematian, bukan?

Prosa Dia 30: Sungkem


Seluruh raga tertunduk. Malu tuk menyombongkan diri dari noda-noda terkutuk. Hanya secarik asa yang tetap menyelimuti kami dengan setia. Meski terkadang ia dipersalahkan.

Kami terlalu naif pada dunia ini. Memakan apapun yang terlintas setiap hari. Maka noda-noda itu terus menumpuk tumbuh subur laksana pupuk. Tapi kami terlanjur basah, basah oleh noda-noda. Mereka mengotori ilham ini, membuatnya lupa akan tempat berpijak.

Lalu, hari ini datang. Cahaya terang menyelimuti kami. Menjernihkan kembali kami yang tersesat. Kain-kain sutra menghangatkan kami, noda-noda di raga ini mendadak lenyap, sirna. Kami bisa melihat sebuah celah. Celah yang selama ini hilang dari hati kami dan ketika kami membuka mata, tubuh ini telah bersimpuh. Kedua tangan kami mengatup rapat penuh khidmat. Untaian air mata berlinang membasahi punggung tangan kami. Sebuah kata pengampunana dan maaf terlantun bagai nyanyian surgawi, indah dan tentram.

Kami telah kembali ke jalan-Nya. Kami telah fitri kembali.

Proudly powered by Blogger
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.
Converted by LiteThemes.com.