Prosa Dia: 71. When Mans Down

He's broken
He's rotten
He lost his treasure
Most painful than any sword
Most painful than any knife

He's in dust
Walking in dark
Alone in the corner, waiting for godot
and skies was cries

He's down on his knee
Feet of barely skin
Scar as his heart
Tears as his river
When mans down,
you would die on fear
When no one can save you...

Prosa Dia: 68. Pisau di Balik Senyum

Terbaca,
Ya, semua jelas terbaca
Genangan air itu juga merefleksikannya
Ada pisau dibalik senyummu,
Ada darah yang siap tersembur,

Aku harus melindunginya
Ketika itu terjadi, kapan pun terjadi
Aku memang kawanmu,
Aku memang membelamu,
Namun
aku harus melindungi tuanku

Sebuah langkah berat ku ukir
Melewati pintu itu ku hadir
Masuk ke mimpi buruk, terburuk

Prosa Dia: 63. Balada Tanah Sore

Kami mandi keringat,
di setiap senja di ufuk barat
ketika kemamang mulai muncul pukul empat
dan ketika air air hujan telah mampat

Desir-desir angin mengulum malam
sayup-sayup camar tenggelam
disambut dengan jerit tangis kelam
Kami disini, berlari dengan masam

Kata orang, hidup itu pilihan
hidup itu bagai roda berputar
tapi bagi kami, kaum tanah sore
hanya bisa menyaksikan apa yang disangsikan

Kami bukan binatang!
pikiran kami tetap rasional
walau raga kami telah usang

Kami bukan peminta-minta!
Kami memang jelata
tapi kami masih punya harga

Prosa Dia: 61. Aku Tertawa Pada Dunia dan Mereka

Aku menertawakan mereka,
Mengapa?
Lihatlah, mereka mengumpat pada dinding yang kotor. Gila?! Tidak.

Aku menertawakan mereka,
yang mau-maunya melibatkan diri dalam posisi lemah padahal mereka kuat. Ya mereka sendiri yang masuk ke kandang harimau.

Aku menertawakan mereka,
bukan berarti aku tidak mau menolong. Tapi aku harus mengurus diriku yang lain, yang butuh dikasihani, bukan mereka yang cacat otaknya.

Aku menertawakan mereka,
karena ku rasa dunia sudah berpaling dari mereka.
Kenapa?
Mereka mencampuri urusan orang lain dengan mendobrak pintu rumah yang terkunci.
Bodoh.

Aku menertawakan dunia, apa sebenarnya yang kau tertawakan?

Prosa Dia: 60. Usainya Perjuangan


Air mata tak bisa menunggu, mereka segera berhamburan dari ruang tunggu. Ya, burung-burung besi itu telah mendarat, membawa serta mereka yang berihram. Wajah-wajah lelah tersamar oleh sukacita walau haru dan pilu. Sebuah perjalanan panjang rampung sudah. Kini mereka kembali dari medan tempur dengan membawa kebanggaan dan doa. Ya Allah, Alhamdulillah... Mereka telah menyelesaikan rangkaian imannya. Ridho-Mu dan Barokah-Mu..

Prosa Dia: 59. Crème Glacée


Satu hal dari bangsa ini yang sudah dilestarikan, macet. Dua jam sudah ku duduk menunggu antrian kendaraan yang bergantian memakai jalan. Bukan, bukan kendaraannya tapi orang-orangnya yang sudah kelewat kaya hingga kendaraan-kendaraan jadi meluber bak air bah.

atau

Memang polisi yang tidak bisa mengatur laju raya? Lalu bagaimana mereka bisa direkrut dan dipekerjakan? Tanda tanya besar.

Mereka semua adalah contoh buruk masyarakat ini. Sebuah klise dan ironi yang dicampur jadi satu dalam ember yang sudah penuh. Dan diberi topping korupsi yang merah dan manis.

Prosa Dia: 58. Entahlah

Tertawa,
Si kecil itu bahagia. Berkecipak air dan berlarian dibawah air yang turun dari langit.
Seakan beban dunia tidak pernah ada.

Kapan aku terakgir kali tertawa lepas, puas, tanpa beban?
Entahlah, mungkin sudah bertahun-tahun..
atau mungkin
belum pernah..

Prosa Dia 54: Dia dan Kita

Lihatlah dia,
duduk dipinggir jalan dengan kulitnya yang hhitam legam terpanggang matahari dan asap-asap knalpot truk-truk maha-besar. Kedua kakinya dibalut dengan perban sekenanya dan sewajarnya. Tidakkah kita lihat betapa mirisnya dunia ini sementara kita hanya bisa duduk di dalam mobil ber-AC dan menontonnya dari dalam kaca berfilm tebal?

Lihatlah dia,
peluhnya mengalir deras, semakin menambah legam kulitnya yang sebenarnya tinggal sekian sentimeter dari tulangnya. Tahukah kita bahwa dia mungkin belum makan sejak kemarin sementara kita dengan lahapnya menyantap makanan siap saji yang sebenarnya mengandung berbagai zat kimia pembunuh manusia?

Lihatlah dia,
baju dan sarung kumal ia sandangkan di bahunya. Sesekali ia mengusap dahinya, sesekali pula ia mengibaskan topinya yang bertambal untuk sekedar menghalau terik. Tahukah kita, bahwa setiap keping logam yang kita lemparkan padanya sungguh sangat berarti bagi hidupnya besok, lusa dan seterusnya. Tahukah kita, bahwa setiap kali kursi roda itu bergerak untuk mengiba pada kita, adalah sebuah rizki yang harus dikejar untuk menghidupi dapur serta istri dan anak-anak yang tengah menunggu dirumah. Sementara kita hanya bisa meminta pada orang tua dengan membentak, marah-marah kepada bawahan karena kerja tidak maksimal, memeras uang rakyat hanya untuk membayar tiket pesawat eksklusif ke negeri seberang?

Tahukah kita, bahwa sebenarnya kita ini lebih iba bila dibandingkan dengan dia. Dia bisa menikmati hari walau sungguh sebuah perjuangan yang berat dan tak kunjung menemui titik usai, sementara kita yang selalu bahagia namun terjangkit berbagai penyakit kronis dan menguras pundi-pundi untuk bisa tertawa lagi di depan meja-meja penuh dengan makanan, sayangnya akhirnya kita harus meutup mata lebih cepat sebelum bisa menikmati hidangan.

Proudly powered by Blogger
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.
Converted by LiteThemes.com.